Selasa, 25 September 2018

Penyebaran Tenaga Pendidik Yang Tidak Merata

  Saat ini Indonesia masih kekurangan tenaga kependidikan, khususnya tenaga pendidik yang berada di daerah-daerah terpencil. Sunggu sangat memprihatinkan ketika melihat sekolah-sekolah yang berada di daerah pedalaman hanya memiliki beberapa guru saja, yang terkadang mengajarnya harus bergantian dari kelas yang satu ke kelas lainnya. Hal ini menyebabkan terganggunya kegiatan belajar dan mengajar yang sebagaimana mestinya kegiatan tersebut haruslah nyaman, efektif, dan yang paling terpenting setiap materinya tersampaikan dengan baik kepada siswa.
    
    Tidak dapat dipungkiri bahwa tenaga pendidikan Indonesia masih banyak yang hanya lulusan SMA/Sederajat, yang dimana mereka belum memiliki kriteria sebagai seorang tenaga kependidikan atau guru yang harus memiliki keprofesionalan, jiwa-jiwa dan kepribadian yang berkarakter. Hal ini perlu diperhatikan oleh pemerintah kita yang harus adil dalam penyebaran tenaga pendidikan, karena ini sangat berpengaruh juga dalam kualitas sistem pendidikan di Indonesia juga, dan harus diakui juga bahwa sistem pendidikan di Indonesia masih lah sangat rendah dibandingkan negara-negara lainnya.

Keprofesionalan Guru Yang Kurang dan Masih Diragukan

      Keberhasilan seorang siswa adalah tanggung jawab dari seorang guru. Guru dituntut untuk memiliki sikap yang profesional serta memiliki jiwa-jiwa dan kepribadian yang berkarakter, karena sebagaimana mestinya seorang guru yang tingkah lakunya itu digugu dan ditiru oleh siswa-siswanya. Tapi saat ini masih banyak tenaga kependidikan kita yang keprofesionalannya masih dipertanyakan karena masih banyak guru yang mengajar di sekolah-sekolah khususnya di sd siswanya diterlantarkan dalam belajar, masih banyak guru yang mengajar hanya sekedar menjelaskan dan memberikan tugas-tugas, keluar dari kelas saat jam mengajar, sehingga masih banyak siswa-siswa yang sudah memasuki sd kelas tinggi namun masih belum bisa lancar membaca bahkan berhitung, tingkat kedisiplinan yang ditanamkan masih kurang serta pendidikan karakter pun masih kurang.

   Hal ini seharusnya juga diperhatikan oleh pemerintah kita, yang harusnya turun tangan dan bertindak untuk menyaring dan memberikan pelatihan bagi guru-guru agar mereka bisa mendalami keprofesionalannya sehingga guru memiliki jiwa-jiwa dan juga kepribadian yang berkarakter.

Kurangnya Perhatian Guru Terhadap Kerapihan Siswa


source: rumahzakat.org

   Setiap siswa dituntut untuk selalu rapih di dalam lingkungan sekolah, karena ciri-ciri seorang berpendidikan dan terdidik itu adalah selalu memperhatikan kerapihan baik itu fisik, pakaian, perkataan dan tingkah laku. Namun seperti yang diketahui tidak semua sekolah memperketat dalam hal kedisiplinan tersebut, ketidak pedulian dari kepala sekolah maupun guru sehingga siswa banyak yang berperilaku bebas dan semaunya.
     
     Dalam hal ini seharusnya menjadi perhatian bagi sekolah yang seharusnya memperketat kedisiplinan dan peraturannya. Selain dari pihak sekolah, orang tua pun harus turut andil dalam peraturan-peraturan tersebut. Kejadian ini tidak hanya ditemukan pada sekolah di daerah-daerah terpencil saja namun di daerah perkotaan pun banyak juga ditemukan, banyak siswa yang kurang perhatian dari gurunya sendiri, mulai dari seragam yang tidak rapih dengan kata lain kotor, lecak, diperkecil, kusam, dan sebagainya, lalu atribut yang digunakan tidak lengkap, kaos kaki yang pendek, sepatu yang tidak sesuai warnanya yaitu hitam, rambut yang gondrong bahkan dicat, kuku yang panjang, dan masih banyak lagi. Maka dari itu perlu adanya kesadaran dari pihak sekolah dan orang tua untuk memperhatikan anak-anaknya dan sekolah juga harus konsisten dalam menetapkan peraturannya.

Mengkonsisten Resume Buku Sebelum Mulai Belajar

     Di dalam kurikulum 2013 ada penetapan peraturan bahwa sebelum dimulainya jam belajar mengajar membudayakan membaca selama 15 menit lalu meresume buku setelahnya, namun pelaksanaan kegiatan tersebut tidaklah konsisten dilaksanakan karena masih ada sekolah yang belum efektif melaksanakannya serta bahkan misal ketika guru tersebut tidak masuk kelas, siswa-siswa tidak akan melaksanakan kegiatan tersebut. Kesadaran budaya membaca memang belum tertanam secara maksimal di masyarakat Indonesia, kita lebih suka melihat dan memainkan gadget ketimbang membaca buku.
          Dengan adanya budaya membaca sebelum mulai belajar dan mengajar sebelum masuk kelas di kurikulum 2013 diharapkan kesadaran membaca dapat tertanam, namun tentunya ini juga menjadi kesadaran setiap sekolah-sekolah untuk melaksanak kegiatan tersebut secara konsisten, dan sebaiknya dilakukan pengawasan ditiap-tiap kelas kepada siswa dalam pelaksanaan membaca dan meresume 15 menit secara ketat agar kegiatan tersebut menjadi sebuah kebiasaan dan menjadi sebuah budaya yang baik.

Senin, 24 September 2018

Generasi Hebat, Generasi Tanpa Maksiat

      Di era globalisasi saat ini, semua orang berlomba-lomba untuk menjadi yang terdepan dan tercapai segala keinginannya. Di era globalisasi ini jugalah yang menyebabkan krisisnya moral karena zaman yang sudah terlampau moderen. Berbagai cara orang-orang lakukan untuk mempertahankan hidupnya supaya tidak tergilas dan tertindas, dan banyak cara-cara yang ditempuh pun yang merugikan banyak orang. Tingkat kriminalitas di negara kita yang selalu menaik dan itu menandakan negara kita sedang berada dalam krisis moral.

       Krisis moral ini bukan hanya terjadi dikalangan orang dewasa tapi sampai pada anak-anak, banyak anak-anak yang melakukan penyimpangan norma-norma dan ini sangat memprihatinkan bagi kita semua yang dimana anak-anak adalah generasi cemerlang dan sebagai penerus kehidupan bangsa ke depannya. Bagaimana sebuah bangsa ingin maju jika generasi-generasinya tidak mencerminkan sebagaimana mestinya yang diharapkan untuk kemajuan sebuah bangsa, karena bangsa yang hebat adalah bangsa yang generasinya unggul dan cemerlang. Maka dari itu kita harus bisa menekan krisis moral yang terjadi dengan cara memperkuat pengetahuan pancasila dan pendidikan yang berkarakter khususnya pada siswa-siswa yang sebagai calon penerus bangsa, generasi yang hebat itu yang tanpa maksiat karena krisisnya moral. 

Pentingnya Media Pembelajaran

 

  Cara mengajar zaman dulu berbeda dengan zaman sekarang. Jika zaman dulu mengajar lebih banyak dengan metode ceramah, di zaman sekarang dengan kurikulum sekarang yaitu kurikulum 2013 atau kurtilas anak-anak dituntut aktif dalam mencari materi dan guru hanya sebagai fasilitator. Zaman dulu, guru memberikan materi dan menuliskan materi sendiri hanya di papan tulis saja, namun zaman sekarang guru memberikan materi dengan berbagai cara dan variasi, dengan cara itulah guru memberikan berupa media pembelajaran. Seberapa pentingkah media pembelajaran itu? Sangat penting karena untuk mempermudah dalam penyampaian materi dan murid dapat serta aktif untuk memahami materi itu sendiri, selain itu agar anak-anak tidak cepat bosan jika guru hanya menyampaikan materi melalui ucapan dan menuliskan di papan tulis saja.

      Guru dituntut aktif dan kreatif dalam cara mengajarnya, berbagai cara dapat dilakukan apalagi dengan zaman yang sudah canggih, misalnya guru menampilkan materi dalam bentuk power point, power point tersebut dibuat sedemikian unik dan menarik serta berbagai macam animasi-animasi di dalamnya untuk menarik perhatian siswa. Selain power point, guru juga dapat membuat aplikasi sendiri sebagai media pembelajaran, aplikasi permainan yang di dalamnya masih berisikan materi, apalagi anak-anak zaman sekarang suka sekali dengan games di android, guru bisa berkesempatan membuat aplikasi games sendiri yang dimana games tersebut sangat positif yang imendidik dan sebagai bahan ajar.

Meningkatkan Kecerdasan Anak Dengan Bermain Di Lingkungan




          Masa anak-anak adalah masa tumbuh dan berkembang. Masa tumbuh yaitu bertumbuh secara fisiknya, sedangkan masa berkembang yaitu berkembang sistem motoriknya. Di masa seperti inilah masa yang paling pas untuk meningkatkan kecerdasannya, anak-anak tidak hanya melulu belajar untuk bisa jadi cerdas melainkan diasah juga melalui minat dan bakat serta sosialnya. Orang tua zaman sekarang seringkali anaknya dilarang untuk bersosialisasi dengan lingkungan sekitar rumah contohnya anak-anaknya dilarang bermain di luar rumah. Padahal anak-anak perlu yang namanya bersosialisasi sebagai bentuk kepercayaan dirinya dalam bertemu dengan orang lain.

      Dengan melarang anak-anak untuk bermain di luar rumah justru akan berdampak tidak baik untuk si anak, mereka tidak akan paham dengan keadaan situasi di luar, kehidupan interaksi dan bersosialnya terhambat, rasa percaya dirinya tidak ada, mereka akan menjadi pasif, bahkan anak-anak akan menjadi egois, mereka akan memikirkan dirinya sendiri dan tidak peduli dengan keadaan disekitarnya. Maka dari itu, perlu adanya membiarkan anak-anak bermain di luar rumah bersama dengan teman sebayanya supaya melatih interaksi sosialnya dan agar mereka menjadi anak yang aktif pula ke depannya, namun anak-anak tetap harus dalam pengawasan orang tua jika bermain di luar rumah.